Text
Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia
Pertanian merupakan kegiatan yang sangat tua di Indonesia. Padi sudah ditanam di Jawa sekitar tahun 200—300, sebelum datangnya bangsa India di sini. Oleh karena itu istilah-istilah yang dipakai dalam budidaya padi tidak ada yang berasal dari bahasa Sansekerta (van der Veer, 1948a). Jagung sudah ditanam sebelum datangnya orang Spanyol. Pada waktu Rumphius tinggal di Ambon pada tahun 1657—1702, jagung sudah umum terdapat dan ditanam secara meluas (van der Veer, 1948b). Kelapa banyak ditemukan oleh Marcopolo dalam kunjungannya di Sumatera pada tahun 1292—1293 (Reyne, 1948). Mengeniai perkembangan hortikultura di Indonesia tidak ada catatan-catatan yang tersedia. Tetapi pada umumnya budidaya tanaman hortikultura — yang meliputi tanaman sayuran. tanaman buah-buahan, dan tanaman hias — berkembang sesuai dengan perkembangan urbanisasi dan perkembangan industri. Sebelum itu orang berusaha menanam sayuran dan buah-huahan
untuk keperluan keluarga masing-masing Baru setelah hanyak orang yang tinggal di kota atau bekerja dalam industri, banyak orang yang tidak dapat mencukupi kehutuhannya scndiri, sehingga mereka perlu membelinya.
Kebanyakan tanaman hortikultura yang penting di Indonesia adalah tanaman asing Di antara tanarnan mi hanyak yang berasal dan Amerika Tropika, antara lain huah nona, buncis, cabai, jambu biji, jambu mete, kentang, pepaya, dan tomat. Sebagian tanaman berasal dan Eropa Selatan, di sekitar Laut Tengah, antara lain kapri dan kubis. Gude, kacang panjang, dan ketimun berasal dan Afrika Tropika. Tanaman yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara antara lain adalah durian, jeruk, nangka, dan pisang. Mangga berasal dan daerah Indo-Burma, dan sawi dan Asia Timur (Cina dan Jepang) (Purseglove,, 1969). Tidak diketahui kapankah tanaman-tanaman asing itu mulai dibudidayakan di sini. Hanya kentang yang diketahui hahwa pada tahun 1794 sudah dibudidayakan di sekitar Cimahi (Jawa Barat), tahun 1804 di Tengger(Jawa Timur), tähun 1811 di Kerinci (Surnatera), dan tahun 1812 di Kedu (Jawa Tengah) (Koens. 1948). Sejak sebelum Perang Pasifik pemerintah kurang mempunyai perhatian terhadap pengembangan hortikultura di Indonesia. karena perhatian utama dicurahkan pada produksi hahan makanan pokok. khususnya heras. Baru antara tahun 1970—198() perhatian terhadap pengembangan budidaya tanaman hortikultura, termasuk tanaman hias, sangat meningkat, antara lain dengan didirikannya lembaga atau halai penelitian khusus yang menangani tanaman hortikultura, pada tahun 1984, yaitu Balai Penelitian Hortikultura Lembang (Jawa Barat), dengan subbalainya di Segunung. Cipanas, dan Berastagi (Sumatera Utara). dan Balai Penehitian Hortikultura Solok, dengan subbalainya di Malang. Tiekung (Malang), dan Jeneponto (Sulawesi Selatan). Kedua Balai Penelitian Hortikultura tersebut di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di Pasar minggu, Jakarta. Perhatian terhadap hudidaya tanaman hortikultura lebih meningkat lagi pada tahun 1980-an mi, karena diharapkan agar
hasil tanaman hortikultura dapat diekspor, baik dalam bentuk segar maupun setelah diawetkan, untuk memperoleh devisa dalam rangka meningkatkan ekspor mata dagangan bukan minyak dan gas bumi.Tanarnan hortikultura, terutama sebagai tanaman asing, mendapat banyak gangguan hama dan penyakit. Pada peningkatanan budaya tanaman hortikultura masalah penyakit tumbuhan akan makin menonjol, baik pada tanaman yang tumbuh dilapang, maupun pada hasil yang disimpan maupun diangkut.
Tidak tersedia versi lain